Total Tayangan Halaman

Jumat, 18 Januari 2013

Fenomena Digital Native dan Layanan Perpustakaan


Digital  native dan  Perpustakaan
Digital Native adalah generasi pertama pelajar atau pembelajar yang  terlahir dan berkembang dalam  dunia teknologi digital. Meraka sekarang banyak belajar di universitas, dan kita berharap mereka menggunakan layanan perpustakaan. Perpustakaan universitas harus mengenali fenomena ini, dan merespon dengan mengubah layanan perpustakaan  untuk menjawab kebutuhan generasi digital ini. Pendekatan Layanan perpustakaan harus disesuaikan dengan bagaimana kecenderungan generasi digital dalam belajar. Perpustakaan harus memahami keinginan dan kebutuhan pengguna generasi digital ini karenan mereka mempunyai cara berpikir yang sangat dipengaruhi oleh dunia digital. Untuk itu perpustakaan harus menyesuaikan jenis layanan dan dan format layanan agar sesuai dengan kebutuhan mereka. Apabila tidak, maka perpustakaan akan ditinggalkan oleh para penggunanya, terutama pengguna digital native ini

 

Rabu, 24 Oktober 2012

Pelajaran Bahasa Inggris, knapa dihapus..?




PELAJARAN BAHASA INGGRIS, SELAYAKNYA DIPERKUAT
BUKAN MALAH DIHAPUS

            Pemerintah melalui Kemdiknas berencana untuk menghapus mata pelajaran bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di sekolah dasar. Pemerintah beranggapan bahwa mata pelajaran Bahasa Inggris di sekolah dasar memberatkan siswa dan akan mengurangi penyerapan dan pemahaman siswa terhadap Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia saja siswa belum  mengerti dengan baik, tetapi malah sudah harus belajar Bahasa Inggris, begitu alasan pemerintah. Dikhawatirkan siswa akan mengalami kerancuan pemahaman mengingat struktur bahasa Inggris berbeda dengan bahasa Indonesia. Bahkan disinyalir siswa malah lebih tertarik belajar bahasa Inggris ketimbang belajar bahasa Indonesia.
            Kebijakan penghapusan mapel bahasa Inggris tersebut walau masih rencana, ternyata mengundang reaksi pro dan kontra di tengah-tengah masyarakat, baik dari kalangan pendidik, akademisi, masyarakat umum maupun para siswa itu sendiri. Sebagian masyarakat yang setuju dengan kebijakan tersebut beranggapan bahwa siswa sekolah dasar memang belum saatnya untuk menerima pelajaran bahasa Inggris yang terkenal bikin pusing dan menakutkan bagi sebagian besar siswa maupun orangtua. Bahasa Inggris memang sebaiknya mulai diajarkan pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi yaitu sekolah menengah pertama (SMP), dimana siswa sudah cukup matang perkembangan kognitifnya untuk menerima pelajaran sesulit bahasa Inggris dan siswa sudah memiliki pemahaman yang memadai terhadap Bahasa Nasional, bahasa Indonesia, demikian argumentasi pihak yang pro kebijakan pemerintah. Sebaliknya, masyarakat yang tidak setuju dengan kebijakan pemerintah tersebut berpendapat, bahwa yang namanya kemampuan berbahasa sebaiknya ditanamkan sejak dini karena masa kanak-kanak merupakan waktu/umur yang paling baik (golden age) untuk belajar bahasa, termasuk dalam hal ini bahasa Inggris.
            Sebaiknya pemerintah mengkaji ulang kebijakan penghapusan mapel Bahasa Inggris tersebut secara lebih teliti, sehingga pemerintah tidak membuat blunder dengan mengambil keputusan yang salah. Ada beberapa alasan mendasar mengapa pemerintah sebaiknya berpikir ulang, yaitu: 1. Menghadapi era global seperti sekarang ini tidak bisa dipungkiri lagi bahwa penguasaan Bahasa Inggris sebagai lingua franca tak dapat ditawar lagi. Penguasaan Bahasa Inggris yang baik akan sangat berpengaruh terhadap masa depan anak didik, dan keberhasilan bangsa ini dalam kompetisi global yang kian ketat. 2. Arus informasi dan ilmu pengetahuan masih berjalan satu arah yaitu dari negara-negara barat (yang notabene kebanyakan  berbahasa Inggris) ke Negara-negara berkembang termasuk Indonesia, sehingga penguasaan terhadap Bahasa Inggris akan menjadikan transfer informasi dan pengetahuan menjadi lebih baik.  Hampir 80 persen terbitan buku di Indonesia adalah buku-buku terjemahan dan sebagian besar dari buku berbahasa Inggris, sehingga penguasaan Bahasa Inggris mutlak harus diperkuat agar siswa atau mahasiswa mampu membaca buku berbahasa Inggris dengan baik, dengan demikian kita akan bisa mengejar ketertinggalan di berbagai bidang.dari barat. 3. Berdasarkan teori tabularasa, anak sebelum mencapai usia baligh diibaratkan seperti selembar kertas putih yang masih bersih dari coretan apapun, kertas bersih tersebut akan mudah untuk ditulisi apapun dan hasilnya pasti lebih bagus dibandingkan apabila menulis di kertas yang sudah ada coretannya. Demikian juga dalam hal pengajaran bahasa Inggris, pada masa usia SD anak-anak akan lebih mudah memproduksi pelafalan ujaran (pronunciation) bahasa Inggris yang menyamai, atau paling tidak mendekati penutur asli (native speaker). Sebaliknya, ketika pembelajaran dimulai setelah anak-anak  mencapai usia baligh maka golden age tersebut akan terlewati dengan sia-sia, dan hasilnya seperti sekarang ini dimana penguasaan bahasa Inggris orang Indonesia pada umumnya lemah. 4.
Secara umum penguasaan Bahasa Inggris orang Indonesia sangat lemah. Berdasarkan catatan di pusat data TOEFL di Princenton, New Jersey, Amerika Serikat yang terangkum dalam The TOEFL Test and Score Manual bahkan secara meyakinkan menunjukkan kesulitan yang serius dihadapi peserta test dari Indonesia, dimana rata-rata hanya mampu mencapai score di bawah 450. Ini adalah bukti nyata bahwa kemampuan berbahasa Inggris orang Indonesia sangat lemah, sehingga pembelajaran Bahasa Inggris harus diperkuat.
            Apabila diuraikan lebih lanjut akan banyak sekali hal-hal yang menguatkan betapa pentingnya penguasaan Bahasa Inggris di masa sekarang maupun dimasa yang akan datang, mengingat Bahasa Inggris sudah menjadi bahasa internasional nomor satu. Yang jelas kebijakan pemerintah untuk menhapus mapel Bahasa Inggris di sekolah dasar perlu ditinjau kembali. Pada dasarnya yang salah bukan Bahasa Inggrisnya sehingga harus dihapus, akan tetapi yang harus dipikirkan pemerintah adalah bagaimana cara/metode mengajarkan dan apa yang harus diajarkan sehingga Bahasa Inggris menjadi pelajaran yang fun bagi anak-anak. Banyak sekali metode yang bisa dikembangkan dan diterapkan sehingga anak-anak tidak merasa sedang belajar, misalnya: games, role play, singing, dan masih banyak lagi, yang jelas pengajarannya harus dikemas mengasyikkan bagi siswa. Dengan begitu anak-anak akan beranggapan bahwa Bahasa Inggris itu merupakan sesuatu yang menyenangkan.
            Mudah-mudahan pemerintah cukup bijak dalam mengambil keputusan terkait penghapusan mapel Bahasa Inggris ini. Kita tentu tidak ingin bangsa ini menjadi semakin jauh tertinggal karena penguasaan Bahasa Inggris yang lemah. Saya yakin anak-anak usia sekolah dasar di Indonesia cukup cerdas untuk menerima pelajaran tersebut, tinggal bagaimana kita pandai-pandai mengajarkannya.
           


                                                                                                          

Kamis, 04 Oktober 2012

PRESERVASI DAN KONSERVASI NASKAH KUNO DI PERPUSTAKAAN KRATON YOGYAKARTA
PENDAHULUAN
Di dalam Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, yaitu istana kesultanan di Yogyakarta terdapat empat perpustakaan yaitu: 1. Perpustakaan Dalem Prabayeksa / Kraton Kilen 2. Perpustakaan Kawedanan Ageng Punakawan Widya Budaya 3. Perpustakaan Kawedanan Ageng Punakawan Banjar Wilapa 4. Perpustakaan Kawedanan Ageng Punakawan Krida Mardawa Salah satu perpustakaan yaitu Perpustakaan Kawedanan Ageng Punakawan Widya Budaya, atau lebih dikenal dengan Perpustakaan Widya Budaya, menyimpan koleksi naskah-naskah kuno tulisan tangan (manuskrip) berbahasa Jawa. Manuskrip tersebut sudah cukup tua dan kebanyakan berasal dari masa sesudah HB III. Naskah-naskah manuskrip tersebut sangat berharga karena sebagai warisan sejarah dan warisan budaya (cultural heritage), yang memuat sejarah kebudayaan masa lalu yang adi luhung, yang harus dilestarikan baik secara fisik maupun kandungan informasinya, agar bisa diwariskan dan dipelajari oleh generasi mendatang. Sayangnya, naskah-naskah tersebut sebagian sudah rusak karena berbagai faktor, sebagian yang lain yang kondisinya masih cukup baik perlu penanganan khusus agar bisa lebih awet dan dapat dimanfaatkan lebih lama. Dalam keadaan yang demikian, upaya-upaya konservasi dan preservasi mendesak untuk dilakukan karena berpacu dengan waktu seiring dengan proses kerusakan naskah yang terus berjalan. Naskah-naskah kuno memerlukan penanganan khusus karena secara fisik kertasnya sudah rusak. Penanganan naskah kuno memerlukan keahlian khusus, kesabaran, ketekunan, ketlatenan, ketelitian, dan bahkan kasih sayang, sebagaimana merawat bayi atau orangtua. Dalam melaksanakan preservasi, keberadaan laboratorium restorasi mutlak diperlukan untuk memperbaiki naskah-naskah yang sudah rusak. Untuk itu dalam survei kami di Perpustakaan Widya Budaya, kami ingin mengetahui lebih lanjut mengenai bagaimana upaya konservasi dan preservasi terhadap naskah-naskah kuno tersebut. Adapun informasi yang kami gali meliputi hal-hal sebagai berikut: manajemen lembaganya, pengertian konservasi dan preservasi di lokasi obyek kajian, jenis koleksi yang ada, upaya-upaya konservasi dan preservasi di lokasi obyek kajian, sumberdaya manusia atau staff, kerjasama yang dilakukan dengan lembaga lain, laboratorium preservasi, dan anggaran yang dialokasikan untuk usaha-usaha preservasi dan konservasi. PEMBAHASAN A. MANAJEMEN 1. Struktur organisasi 2. Sejarah berdirinya Perpustakaan Widya Budaya Perpustakaan Widya Budaya didirikan pada masa pemerintahan HB VIII. Perpustakaan ini menempati sebuah gedung yang dahulunya dipakai sebagai tempat menginap tamu kerajaan. Misalnya, tamu dari Kasunanan atau Mangkunegaran Surakarta. 3. Peraturan bagi pengunjung Perpustakaan Widya Budaya Kraton Yogyakarta Hadiningrat a. Setiap pengunjung harus memperlakukan naskah/manuskrip dengan baik dan hati-hati agar naskah terjaga keaslian dan keutuhannya. b. Setiap pengunjung harus membersihkan dan mengeringkan tangan sebelum memegang naskah/manuskrip, terutama ketika tangan kotor atau berkeringat. c. Pengunjung tidak boleh mengambil naskah/manuskrip sendiri, melainkan diambilkan oleh petugas perpustakaan. d. Setiap pengunjung hanya boleh membaca (1) naskah dalam satu waktu ; membaca naskah lain diperbolehkan jika naskah sebelumnya sudah dikembalikan. e. Supaya kondisi naskah dan penjilidannya tetap terjaga dengan baik, ketika membuka dan membaca naskah sebaiknya diberi alas bantal. f. Gunakan bookmark (pembatas buku) dari kertas dan bukan dari besi atau kulit karena cenderung akan mengotori naskah dan dapat merusak naskah. g. Jangan menggunakan ballpoint (pulpen) dekat dengan naskah supaya naskah aman dari coretan tinta (secara tidak sengaja). h. Jangan menempelkan atau meletakkan alat tulis atau barang-barang yang dapat mengotori atau membuat kerusakan pada naskah, seperti : menempel naskah dengan kertas stiker, meletakkan makanan atau minuman di dekat naskah, membatasi naskah dengan pensil, dll i. Mengembalikan buku/naskah yang selesai dibaca pada tempatnya atau dikembalikan ke petugas. j. Dilarang makan, minum dan merokok di dalam perpustakaan. 4. Visi dan Misi Perpustakaan Widya Budaya Antara visi dengan misi di Perpustakaan Widya Budaya tidak dibedakan. Visi-Misinya yaitu untuk melestarikan naskah-naskah kraton agar dapat disebarluaskan informasinya sehingga kebesaran sejarah dan kebudayaan bangsa bisa diketahui masyarakat umum. B. PENGERTIAN PRESERVASI DAN KONSERVASI Di Perpustakaan Widya Budaya antara preservasi dan konservasi tidak dibedakan secara jelas tetapi merupakan satu kesatuan dan diartikan sebagai kegiatan-kegiatan membersihkan, memelihara, merawat dan melestarikan naskah-naskah kraton. Sedangkan dalam teori menurut Adishakti (2007) dalam Burra Charter konsep Konservasi adalah semua kegiatan pelestarian sesuai dengan kesepakatan yang dirumuskan pada Piagam tersebut. Konservasi adalah konsep proses pengolahan suatu tempat atau ruang ataupun obyek agar makna kultural yang terkandung didalamnya terpelihara dengan baik. Maka dalam lingkup perpustakaan dapat dikatakan bahwa konservasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh suatu perpustakaan untuk melestarikan semua bahan koleksi yang ada agar tetap dalam keadaan yang baik, bisa digunakan serta dalam pelestariannya mengacu pada kebijakan perpustakaan tersebut. Preservasi adalah kegiatan yang terencana dan terkelola untuk memastikan agar koleksi perpustakaan dapat terus dipakai selama mungkin. Pada dasarnya Preservasi itu upaya untuk mematikan agar semuabahan koleksi cetak maupun non cetak pada suatu perpustakaan bisa tahan lama dan tidak cepat rusak. C. JENIS KOLEKSI Di Perpustakaan Widya Budaya terdapat beberapa jenis koleksi terdiri atas naskah tulisan tangan, buku cetak, dan dokumen-dokumen kearsipan yang berisikan surat-surat kraton, teks sastra sejarah, silsilah, agama, kesenian dan lain-lain. Naskah-naskah Widya Budaya berjumlah sekitar 450 buah. Hampir seluruh koleksi dihasilkan di Kraton Yogyakarta sendiri selama abad ke-19 dan ke-20. Ada pula beberapa naskah yang lebih kuno, YKM/W.330b, seluruh eksemplar kitab suci al- Qur’an yang dihiasi dengan indah, yang merupakan hasil seorang carik di kraton Surakarta pada tahun 1797. Bahwa tidak ada naskah-naskah dari adab ke-18 dan sebelumnya rupa-rupanya disebabkan penaklukan Kraton Yogyakarta pada bulan Juni 1812 oleh pasukan Inggris, dengan bantuan serdadu sepoi dari India serta prajurit Legioen Mangkunegaran. Setelah benteng Kraton jebol, sebagian besar hartanya termasuk naskah-naskah kraton diboyong ke Inggris. Sampai dewasa ini pun banyak buku serta arsip-arsip asli dari masa awal Yogyakarta tetap tersimpan pada koleksi British Library di Inggris dan Belanda (Lindsay:1994, hal. xi-xii). Di samping itu sebagian besar naskah-naskah manuskrip sudah dialihmediakan dalam bentuk digital dan disimpan dalam hard disc. Jumlah naskah yang sudah digitalisasi sampai saat ini mencapai 273 manuskrip. Sisanya belum bisa digitalisasi karena ukurannya terlalu besar sehingga tidak bisa terbaca oleh alat scanner. D. PRESERVASI DAN KONSERVASI TERHADAP MANUSKRIP DI PERPUSTAKAAN WIDYA BUDAYA 1. Digitalisasi Menurut Lasa HS, digitalisasi adalah proses pengelolaan dokumen tercetak atau printed dokumen menjadi dokumen elektronik. Sedangkan digitalisasi menurut Sakamoto adalah sebuah upaya penyelamatan naskah-naskah kuno dengan memanfaatkan teknologi digital seperti softfile, foto digital, microfilm atau microfiche. Digitalisasi Naskah Kuno di Perpustakaan Widya Budaya Digitalisasi naskah kuno di Perpustakaaan Widya Budaya dimaksudkan untuk menyelamatkan kandungan informasi yang terdapat di dalam naskah tersebut. Digitalisasi naskah kuno di Perpustakaan Widya Budaya dilakukan atas kerjasama antara Universitas Leipzig Jerman dengan pihak Kraton Yogyakarta. Saat ini sudah dilakukan digitalisasi tehadap 273 naskah kuno, sisanya belum bisa dilakukan digitalisasi karena naskah terlalu besar jadi alat tidak bisa membaca. Saat ini sedang diusahakan untuk mendatangkan scanner khusus dari Jerman yang bisa men-scan naskah-naskah yang berukuran besar. Hasil dari digitalisasi lalu disimpan di hard disc, satu disimpan di Perpustakaan Widya Budaya sedangkan satunya lagi disimpan Sultan. Demi keamanan data, satu kopi akan disimpan di tempat terpisah untuk mengantisipasi apabila terjadi bencana alam yang tidak terduga di Yogyakarta, maka masih ada back-up data di tempat lain. Data-data kodikologi naskah tersebut juga dapat diakses dari internet melalui alamat: www.manuscripts-java.org 2. Restorasi Menurut Lasa HS, restorasi di sebut juga reparasi, yakni tindakan khusus yang di lakukan untuk memperbaiki bahan pustaka atau dokumen lain yang rusak atau lapuk. Restorasi di Perpustakaan Widya Budaya di lakukan dua cara yaitu cara basah dan cara kering. a. Cara basah yaitu untuk memperbaiki naskah-naskah yang rusak berlubang. Teknik yang dipakai: lifecasting yang dilakukan dengan menggunakan alat khusus. Langkah-langkahnya sebagai berikut: 1) Melakukan penelitian terlebih dahulu, apakah tinta pada naskah bisa luntur bila terkena air atau tidak. Apabila ternyata tintanya luntur bila terkena air maka teknik ini tidak bisa dilakukan. 2) Membuat adonan bubur kertas ( bubur kertas dicampur dengan air) 3) Naskah ditempatkan pada bak khusus lifecasting (naskah berada di atas saringan berupa lapisan strimin yang halus) 4) Masukkan campuran bubur kertas di bak tempat naskah, maka bubur kertas akan turun dan menutup lubang-lubang pada kertas 5) Naskah dikeringkan dengan alat pengering (tidak boleh dikeringkan dengan sinar matahari) 6) Naskah dipress dengan alat press agar kuat. b. Cara kering : untuk memperkuat naskah-naskah yang sudah rapuh, dengan cara melapisinya dengan tisu Jepang, sehingga naskah menjadi lebih kuat. Langkah-langkahnya sebagai berikut: 1) Mencampurkan lem khusus (tylose) dengan air, diusahakan yang tidak mengandung zat besi, agar hasilnya tidak berwarna kuning (takaran : lem 2 ons dan air 400 ml). Pencampuran dilakukan dengan blender agar hasilnya bagus. 2) Potong tisu Jepang sesuai ukuran kertas/naskah yang akan dilapisi. 3) Oleskan lem dengan kuas pada naskah secara merata 4) Tisu Jepang ditempelkan pada naskah yang sudah dilapisi lem tersebut 5) Naskah yang sudah dilapisi tisu Jepang dipress agar kuat 6) Apabila yang dilapisi tisu Jepang itu berupa buku, maka harus lembar demi lembar dan ditunggu dahulu sampai kering betul baru dilanjutkan lembar selanjutnya, agar tidak lengket. Dalam satu hari biasanya hanya bisa menyelesaikan 3-4 lembar naskah. (Bahan-bahan yang dipakai didatangkan dari Jepang) 3. Fumigasi Fumigasi adalah pengasapan bahan kertas atau buku dengan uap atau gas beracun untuk membunuh jamur atau serangga yang tumbuh berkembang pada kertas. Fumigasi dapat dilakukan dalam kotak, lemari atau box fumigasi, ruang fumigasi, ruang penyimpanan arsip, ruang koleksi maupun ruang deposit. Fumigan yang digunakan bisa berbentuk padat, cair, atau gas. Pelaksanaan fumigasi di Perpustakaan Widya Budaya menggunakan fumigan yang berbentuk padat, yaitu menggunakan thymol crystal. Dengan diletakkan di wadah kecil (agar ketika proses fumigasi sudah selesai, mudah untuk membersihkannya). Kemudian di letakkan di pojok-pojok ruangan, 1 ruang 10 butir thymol crystal. Didiamkan selama 3 hari, setelah itu dibuka dan diangin-anginkan selama 2 hari. 4. Freezing Cara ini digunakan untuk menangani kerusakan naskah yang sudah parah (berlubang-lubang karena serangga). Teknik freezing bertujuan untuk membunuh serangga-serangga perusak beserta telur-telurnya, karena telur/larva serangga biasanya tidak mati ketika difumigasi. Caranya : a. Naskah dienkapsulasi terlebih dahulu: 1) Menggunakan alat khusus enkapsulator 2) Naskah dimasukkan ke dalam plastik khusus 3) Udara di dalam plastik tersebut disedot dengan alat enkapsulator 4) Bagian ujung plastik dipres agar tidak ada udara yang masuk (kedap udara) 5) Ruang dalam plastik tersebut harus benar-benar hampa udara, apabila ada udara maka ketika proses freezing akan terjadi pengembunan yang justru akan merusak naskah. b. Naskah yang sudah dienkapsulasi, dimasukkan ke dalam freezer dengan suhu di bawah -10C, 2 hari on, 1 minggu off, kemudian baru dibuka (biasannya 1 freezer bisa memuat 50 naskah yang cukup tebal) 5. Mengganti sampul Apabila ada sampul naskah yang sudah rusak parah maka harus diganti agar naskah tidak rusak, karena sampul berfungsi sebagai pelindung. Penggantian sampul harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak naskah. Bahan yang digunakan untuk sampul bagian luar dan halaman prancis harus menggunakan kertas khusus yang bebas asam. Pemotongan kertas juga harus memperhatikan arah alur otot/syaraf kertas. Bahan-bahan yang dipakai untuk mengganti sampul didatangkan dari Jerman. 6. Memperbaiki jilidan Apabila jilidan naskah sudah rusak, maka harus diperbaiki. Biasanya proses ini bersamaan dengan proses pelapisan naskah dengan tisu Jepang. Jilidan dibongkar kemudian tiap lembar naskah dilapisi dengan tisu Jepang agar kuat baru kemudian dijilid ulang dengan dijahit. Teknik jilidan yang dipakai yaitu teknik signature binding. 7. Transliterasi Transliterasi adalah upaya untuk melestarikan kandungan informasi yang ada dalam naskah dengan mengalihaksarakan naskah dari aksara jawa ke dalam aksara latin. Transliterasi dilakukan oleh Departemen Agama terutama terhadap naskah-naskah keagamaan. Naskah yang sudah ditransliterasi sekitar 25 naskah. 8. “diputrani” Istilah diputrani berasal dari bahasa jawa artinya diturun sehingga naskah memiliki turunan. Upaya ini baru sebatas rencana dan sedang diusulkan kepada Sri Sultan Hamengku Buwana X. Naskah ditulis ulang persis seperti aslinya, dengan aksara dan bahasa yang sama yaitu Bahasa Jawa. Pertimbangannya adalah apabila naskah yang asli rusak masih ada turunannya. Di samping itu mumpung saat ini masih ada orang/abdi dalem yang bisa menulis aksara Jawa dengan bagus. E. STAFF DI PERPUSTAKAAN WIDYA BUDAYA Pegawai yang bekerja di Perpustakaan Widya Budaya disebut dengan abdi dalem. Ada 13 orang, 7 orang juga bekerja sebagai guide di tepas pariwisata kraton jadi tidak setiap hari mereka bisa datang di perpustakaan, karena bertugas di bagian pariwisata. Sedangkan yang 6 orang lainnya bertugas di perpustakaan secara bergiliran. Latar belakang pendidikan petugas Perpustakaan Widya Budaya bukan dari pendidikan ilmu perpustakaan, tetapi latar belakang mereka bermacam-macam, kebanyakan dari mereka adalah pensiunan guru. Ada satu petugas khusus dari BPAD Yogyakarta yang diperbantukan diPerpustakaan Widya Budaya, yaitu Bpk. Muhammad Ali Pitaya yang bergelar Mas Bekel Widya Pitaya. Petugas yang melakukan preservasi ada 3 orang (abdi dalem) yang dilatih oleh tim dari Universitas Leipzig Jerman. Petugas di bagian Preservasi dan Konservasi melakukan usaha-usaha preservasi. meliputi : 1. Digitalisasi 2. Restorasi 3. Fumigasi 4. Freezing 5. Memperbaiki sampul 6. Memperbaiki jilidan F. KERJASAMA DENGAN LEMBAGA LAIN Perpustakaan Widya Budaya bekerjasama dengan : 1. Badan Arsip Nasional, yaitu setiap tahun Badan Arsip Nasional mengirim tim (terdiri dari 15 orang) untuk melakukan restorasi naskah kuno, biasanya selama 1- 2 minggu dan bisa merestorasi 1-2 buah naskah. 2. Universitas Leipzig Jerman, bekerjasama dalam bidang digitalisasi naskah dan restorasi naskah. Proyek ini dibiayai oleh Program Penyelamatan Budaya dari Departemen Luar Negeri Jerman dan didukung oleh Kedutaan Besar Jerman di Jakarta. Tahap konsolidasi berlangung dari 1 Juli – 31 Desember 2009 dan secara keseluruhan proyek ini akan berlangsung kira-kira untuk selama 3 tahun 3. Perpustakaan daerah, membantu pengelolaan Perpustakaan Widya Budaya 4. Departemen Agama, dalam bidang transliterasi G. LABORATORIUM PRESERVASI DI PERPUSTAKAAN WIDYA BUDAYA Terdapat sebuah laboratorium preservasi yang peralatan dan bahannya berasal dari bantuan pihak Jerman. 1. Tata kerja restorasi minor a. Cuci tangan & keringkan !! b. Bersihkan objek restorasi (naskah/peta/gambar) dengan kuas halus atau spon wallmaster c. Siapkan lem (4gr/200ml atau 2gr/100ml-tylose/air). Buat lem tiap senin dan rabu, sisanya kalau sudah tidak bagus di buang d. Letakkan lembaran polyester di bawah objek restorasi dan juga kertas karton di bawahnya. e. Gunakan kertas Jepang sesuai ukuran yang diperlukan dan gunakan pena air (waterpen) untuk memotong. f. Gunakan lem secukupnya dan jangan terlalu banyak karena akan meninggalkan bekas. g. Rapikan dengan alat teflon. h. Pres objek restorasi sampai kering (dengan lembaran polyester dan kertas karton sebagai pemberat) i. Jangan sering menggerakkan objek restorasi, karena akan menyebabkan objek restorasi semakin rusak (gerakkan karton jika memang perlu menggerakkan objek) j. Jika semua kerusakan objek sudah direstorasi (diperbaiki), rapikan sisa-sisa kertas Jepang yang melebihi objek (awas jangan sampai memotong objek!) k. Jika dalam 1 hari restorasi belum selesai, biarkan objek seperti itu(tutup objek dengan lembaran polyester di atasnya untuk melindungi dari debu dls.) l. Jangan tinggalkan tempat kerja kecuali dalam keadaan bersih. m. Bersihkan ruangan restorasi setiap akhir kerja (kamis/jum’at) dengan di sapu dan disikat bila perlu. Ttd Jana Wichman 2. Peralatan-peralatan yang ada di laboratoriumm Perpustakaan Widya Budaya: • Scanner (sekarang berada di Sono Budoyo) • Freezer • Alat lifecasting • Mesin prees • Enkapsulator • Vacum cleaner • Blender • Penyedot air • Alat pengering naskah • Bermacam- macam kuas • Bulpen air • Pensil • Jarum • Penggaris • Ember • Pisau • Gunting • Gergaji • Kapek • Penjepit • Teflon • Gelas ukur • Mangkok • Meteran • Kemoceng • Sikat • Tisu • Gayung • Lakban • Lap • Torong • Cutter • Pipa pralon • Alat press manual 3. Bahan-bahan yang ada di Laboratoriumm Preservasi Perpustakaan Widya Budaya: • Lem • Tisu jepang • Pita untuk jilid • Tylose • Air non besi • Kertas non asam • Bubur kertas • Benang • Senar • Aseton • Alcohol • Plastic enkapsulasi • Kertas karton non-asam (untuk sampul bagian luar) • Kertas khusus non-asam (untuk halaman perancis) H. ANGGARAN Tidak ada subsidi dari pemerintah untuk Perpustakaan Widya Budaya, Anggaran operasional sehari-hari berasal dari kraton, yang besarnya disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.   KESIMPULAN Berdasarkan hasil survey kami, dapat kami simpulkan bahwa preservasi dan konservasi di Perpustakaan Widya Budaya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai berikut : A. Konservasi Konservasi di perpustaaan Widya Budaya, masih belum bagus. Karena belum ada kebijakan yang komprehensif terutama terkait dengan upaya pencegahan kerusakan bahan pustaka. Misalnya : 1. Belum ada pengaturan suhu yang ideal untuk penyimpanan naskah. Seharusnya, naskah disimpan dalam suhu antara 20˚C - 24˚C non stop. 2. Seharusnya ruangan terbebas dari partikel debu yang merusak naskah. 3. Belum tersedianya rak penyimpan naskah yang baik. 4. Anggaran dari pemerintah dan keraton yang masih kecil. 5. Kurangnya tenaga ahli dalam bidang preservasi dan konservasi. B. Preservasi Kegiatan preservasi di perpustakaan Widya Budaya sudah berjalan cukup baik, terutama sejak ada kerjasama antara Keraton dan Universitas Leipzig. Kegiatan preservasi di Perpustakaan Widya Budaya meliputi : 1. Digitalisasi naskah 2. Mengganti sampul 3. Memperbaiki jilidan 4. Memperkuat naskah 5. Menambal naskah yang rusak 6. Freezing 7. Fumigasi Dengan perlakuan-perlakuan preservasi tersebut naskah yang rusak diperbaiki sehingga menjadi lebih tahan lama. C. Saran Sebaiknya segera mengejar berbagai ketertinggalan dalam bidang preservasi dan konservasi, agar bisa melestarikan naskah-naskah lama milik Kraton Yogyakarta yang bernilai sejarah tinggi dan adi luhung dengan sebaik-baiknya. Mengingat sampai saat ini masih ada tujuh ribu naskah Kraton Yogyakarta yang berada di Inggris, yang belum bisa “pulang” karena keterbatasan kemampuan yang kita miliki dalam melestarikan, merawat, dan menjaga naskah-naskah lama tersebut yang notabene menuntut standar konservasi dan preservasi yang tinggi.   DAFTAR PUSTAKA Lasa HS. 2009. Kamus Kepustakawanan Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher Lindsay, Jennifer. 1994. Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Wawancara dengan DR. Maharsi, SS.,M.Hum. (Pimpro Digitalisasi Naskah Kraton Yogyakarta), Senin 12 Desember 2011, Senin 19 Desember 2011. Wawancara dengan KRT Purwodiningrat (Cucu HB VII sebagai Pengageng 2. Perpustakaan Widya Budaya), Sabtu 17 Desember 2011. Wawancara dengan Mas Bekel Widya Pitaya / Muhammad Ali Pataya (Petugas BPAD Yogyakarta yang diperbantukan di Perpustakaan Widya Budaya), Sabtu 10 Desember 2011.

Rabu, 05 Oktober 2011

Penerbitan Buku di Jogja Pasca Orde Baru

PERKEMBANGAN INDUSTRI BUKU DI YOGYAKARTA
ERA PASCA-SOEHARTO
Sebuah Fenomena
Oleh: Marwoto (NIM: 10130072) PII Klas A

Abstrak
Pasca runtuhnya kekuasaan Orde Baru dan Soeharto, muncul fenomena menarik di kota Yogyakarta yaitu lahirnya penerbit-penerbit buku berskala kecil ala Jogja. Mereka mengusung idealisme bahwa kerja buku adalah kerja kebudayaan sebagai transfer ilmu pengetahuan sehingga tidak bisa dibatasi oleh aturan-aturan procedural kapitalis yang menghambat dan merampas hak rakyat untuk menikmati buku sebagai sumber ilmu. Dengan keberanian, kreatifitas dan idealisme mereka mampu menerbitkan karya-karya alternative yang khas, yang berbeda dengan produk penerbit besar yang sudah mapan (mainstream). Kemasan manajemen kerja yang sederhana membuat produk mereka menjadi lebih murah dan disambut baik oleh masyarakat pembaca yang haus buku.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Secara umum dunia usaha penerbitan buku di Indonesia belum menjadi bidang usaha yang sangat menguntungkan. Nasib profesi penulispun juga kurang lebih sama, karena imbalan atas jerih payah intelektualnya menulis buku sangat tidak sepadan. Padahal, untuk menulis sebuah buku diperlukan waktu yang lama, berbulan-bulan bahkan kadang bertahun-tahun. Penulis hanya mendapat royalty 10% dari harga jual, itupun dengan oplah yang tidak terlalu besar dan harus menunggu beberapa bulan setelah bukunya laku.
Iklim penerbitan buku di Indonesia pada umumnya dan di kota Yogyakarta (selanjutnya ditulis Jogja) khususnya mulai berkembang secara massif pasca tumbangnya Orde Baru. Pada masa Orde Baru kebebasan masyarakat untuk berpendapat di lingkup public merupakan hal yang sangat beresiko. Namun, pada periode pasca-Soeharto adalah momentum lahirnya sejumlah penerbit di Jogja. Kejatuhan rezim Orde Baru dan Soeharto membawa angin segar bagi industry perbukuan di Jogja. Penerbit-penerbit kecil bermunculan dengan membawa idealisme yang disambut oleh euphoria komunitas intelektual. Menurut ketua IKAPI DIY, Sitoresmi Prabuningrat, ada lebih dari 100 penerbit di DIY pada tahun 2006. Fenomena munculnya banyak penerbit di Jogja dengan karakteristik yang khas ini, tidak terjadi di kota lain sehingga sangat menarik untuk dikaji.
B. Rumusan Masalah
Tulisan ini akan membahas tentang:
Bagaimana tumbuhnya penerbit Jogja pada periode pasca-Soeharto?
Bagaimana karakteristik penerbit Jogja pada periode pasca-Soeharto?


BAB II
PEMBAHASAN
A. Lingkungan Perbukuan
Dalam konteks perbukuan, Jogja memiliki perangkat yang lengkap. Di kota ini terdapat banyak ilmuwan, cendekiawan, mahasiswa, pelajar, perpustakaan, lembaga kajian, komunitas budaya, seniman, penerbitan, percetakan, toko buku, dan lain-lain. Pengetahuan dan wawasan keilmuan berkembang dengan baik di kota ini. Oleh karena itu, Jogja menjadi kawasan yang ramah untuk lahirnya rumah-rumah penerbitan berskala kecil, komunitas-komunitas penggerak kultur literasi, biro-biro desain grafis kelas rumah kos, dan para penulis dengan kemampuan yang luar biasa.
Salah satu pendukung intelektualitas di kota ini adalah toko buku yang jumlahnya sangat banyak. Para penjual buku loak dulu banyak bertebaran di pinggir-pinggir jalan, kemudia dipusatkan di Shoppping Center. Kota ini bahkan memiliki sejumlah toko buku diskon dan pameran-pameran buku yang memanjakan masyarakat dengan buku-buku murah.
Maraknya rumah-rumah penerbitan di Jogja sebenarnya justru merupakan suatu industry. Pada tahun 2001 saja ada 4.230 judul buku baru yang terbit di kota ini dengan oplah tak kurang 6.480.000 eksemplar. Bandingkan dengan rata-rata judul buku nasional yang terbit tahun1996 yang hanya sebanyak 8.299 eksemplar. Data seperti itu menunjukkan tingginya kreatifitas para pengelola penerbitan tersebut. Pekerjaan yang mereka lakukan itu menjadi penting karena berkontribusi terhadap pengetahuan. Bagi mereka buku adalah salah satu medium penyampai pesan pengetahuan, dan penerbit yang memproduksinya harus berakar pada pemahaman atas pentingnya transfer pengetahuan tersebut.

B. Jogja yang Komunal
Penerbit Jogja bisa lahir karena kebersamaan sebagai sesame teman. Penerbit Merapi adalah sekelompok mahasiswa UGM yang sering berkumpul pada malam hari di warung dekat Mirota Kampus. Penerbit Ombak merupakan komunitas yang digawangi oleh sesame teman di Fakultas Sastra UGM, dll. Pola-pola semacam ini menjadi penting untuk diketahui karena dalam proses berikutnya mempengaruhi ara-ara mereka mengelola rumah-rumah penerbitan. Dengan cara-cara tersebut lahir sejumlah penerbit di Jogja seperti: Bentang Budaya, LKiS, Pustaka Pelajar, Media Pressindo, Sumbu, Jendela, Navilla, Indonesia Tera, Galang Press, Insist Press, KLIK, Merapi, Ar-Ruzz, Jalasutra, Ombak, BukuBaik, Resist Book, Sadassiva, Alinea, dll.

C. Penerbit Alternatif ala Jogja
Yang dimaksud dengan penerbit alternatif adalah di Jogja adalah penerbit yang memiliki sifat melawan kemapanan. Melawan mainstream, baik dari segi isi, pemasaran, maupun semangatnya. Dengan segala perdebatan atas pola-pola kerja dan sikap mereka terhadap industry perbukuan, penerbit-penerbit tersebut memiliki cara pandang yang fleksibel tentang bagaimana sebuah rumah penerbitan didirikan. Pada awalnya tidak ada upaya untuk melengkapi persyaratan menjadi sebuah perusahaan penerbitan. Mereka berhasil merubah paradigma lama tentang penerbitan yang dianggap “agung”, “rumit”, “angker”, menjadi “biasa saja”, “mudah”, dan “tidak menakutkan”. Modal mereka adalah keberanian dalam membuat buku-buku alternatif.
Munculnya penerbit-penerbit Jogja pada awal masa Reformasi dapat diidentifikasi dari hal-hal yang tampak dalam prosesnya yaitu:

1. Diterbitkannya tema-tema buku yang sebelumnya tabu
2. Latar belakang pendirinya kebanyakan adalah aktivis mahasiswa
3. Menerbitkan buku sebagai ekspresi diri baru diikuti oleh kepentingan ekonomi
4. Bermaksud melawan hegemoni sehingga mengesampingkan prosedur
5. Alasan-alasan mereka banyak yang bersifat ideologis.
Sedangkan karakteristik penerbit Jogja adalah sbb.:
1. Berdiri berbekal semangat idealism
2. Tidak didirikan sebagai sebuah usaha bisnis yang murni profit oriented
3. Bermodal pas-pasan
4. Memiliki semangat untuk mendobrak wacana mainstream
5. Mempunyai misi untuk member kesempatan kepada masyarakat dalam memperoleh ilmu atau bacaan yang beragam, memperjuangkan hak pembaca, dan meningkatkan minat baca.
6. Menerbitkan tema-tema buku non-mainstream
7. Latar belakang para pendirinya kebanyakan adalam aktivis mahasiswa
8. Berhasil dengan “sampul buku Jogja”

D. Tudingan Terhadap Penerbit Jogja
Dalam berbagai diskusi di dunia perbukuan dan penerbitan muncul kritik-kritik terhadap perilaku penerbit Jogja. Kritik-kritik tersebut wajar sebagai bagian dari kompetisi bisnis buku antar-penerbit.
1. Resistensi terhadap regulasi
Beberapa Beberapa hal yang tampak dari cara-cara pengelolaan penerbitan oleh para penerbit Jogja di awal kehadirannya antara lain:
a. Membuat lembaga usaha penerbitan tanpa mengurus legalisasi formalnya. Badan usaha, NPWP, SIUP, HO dan faktur pajak adalah komponen-komponen yang mereka urus belakangan.
b. Menerbitkan buku-buku yang secara ideologis masih termasuk dilarang karena belum dicabut ketetapan MPRS tentang pelarangan Marxisme-Komunisme.
c. Menerjemahkan dan menerbitkan buku tanpa mengurus copyright.
d. Tidak selalu mengurus ISBN ke Perpustakaan Nasional.
e. Bukan anggota IKAPI

Di Indonesia ISBN diatur oleh Perpusakaan Nasional dan lembaga itu pula yang memberi nomor ISBN untuk setiap produk buku yang diajukan permohonannya. Hasil nomor ISBN terlihat pada sampul belakang buku. Para penerbit dikenai biaya pengurusan ISBN sebesar Rp. 25.000 per-judul buku. Namun, beberapa penerbit Jogja sejak awal enggan terlibat dalam urusan yang menurut mereka bertele-tele. Karena itu ada penerbit yang tidak mengurus ISBN ke Perpustakaan Nasional sehingga buku terbitannya tanpa ISBN atau dengan nomor sesuka hati.
Para Penerbit di Jogja juga lebih suka memilih jalan sendiri. Mereka enggan menjadi anggota IKAPI walaupun salah satu syaratnya hanyalah sudah menerbitjan lima judul buku, lalu iuran bulanan sebesar Rp.10.000,- per bulan.

2. Terbit tanpa copyright
Banyak penerbit di Indonesia, tidak hanya di Jogja, yang masih menabrak hak cipta atau copyright penerbitan buku terjemahan. Sebagian besar pelanggaran hak cipta itu terjadi pada penerbit Jogja yang biasanya bekerja dengan cepat untuk menerbitkan sejumlah judul dalam waktu singkat. Pelanggaran atas copyright memang tidak hanya dilakukan oleh mereka, banyak penerbit lainnya yang juga melakukan hal yang sama. Namun tudingan lantas lebih mengarah kepada penerbit Jogja karena:
a. Banyaknya jumlah penerbit Jogja yang menerjemahkan serta menerbitkan buku berbahasa asing tanpa mengurus copyright.
b. Judul-judul yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh mereka mencolok perhatian karena sebagian besar adalah karya para penulis besar sehingga mengundang pertanyaan soal izin penerjemahan dan penerbitannya.
c. Banyaknya kesamaan buku terjemahan yang diterbitkan tidak hanya oleh satu penerbit, melainkan oleh dua atau tiga penerbit sekaligus.
d. Munculnya anggapan dari para penerbit Jogja yang menerbitkan karya terjemahan bahwa naskah-naskah tersebut sudah masuk dalam kategori public domain karena telah berusia lebih dari 50 tahun, namun mereka tidak memeriksa kebenarannya.

Menanggapi kritik-kritik tersebut, beberapa alasan penerbit Jogja atas sikap mereka yang enggan mengurus hak cipta terjemahan dan penerbitan buku-buku berbahasa asing adalah:
a. Penerjemahan dan penerbitan itu adalah “kerja kebudayaan” demi transfer pengetahuan kepada masyarakat sehingga tidak memerlukan prosedur yang bertingkat.
b. Aturan dan prosedur pengurusan hak cipta adalah salah satu bentuk kapitalisasi oleh Negara-negara Dunia Pertama terhadap Dunia Ketiga.
c. Ketidakmampuan financial para penerbit Jogja untuk membeli hak cipta buku-buku berbahasa asing.

BAB IV
KESIMPULAN
Lahirnya para penerbit Jogja pasca-Soeharto merupakan fenomena menarik yang telah ikut membantu usaha mencerdaskan kehidupan bangsa dan penyediaan bahan bacaan yang lebih beragam serta bermutu bagi masyarakat. Dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya, usaha yang mereka lakukan jelas sesuatu yang positif. Apalagi untuk mendirikan dan mengelola penerbitan membutuhkan keberanian, sejumlah modal, keahlian, dan manajemen yang tidak semua orang mampu menanggung dan melakukannya.






DAFTAR PUSTAKA

Adhe. Declare ! Kamar Kerja Penerbit Jogja 1998-2007. Yogyakarta: Komunitas Penerbit Jogja (KPJ), 2007.
Altbach, Philip. Bunga Rampai Penerbitan dan Pembangunan. Jakarta: Grasindo & Buku Obor, 2000.