CANDI
IJO: PESONA DAN MISTERI MASA LALU
DI
LERENG GUNUNG IJO

Candi yang satu ini begitu menarik
dan unik, sangat berbeda bila dibandingkan dengan candi-candi di kawasan
Prambanan pada umumnya. Mengapa demikian..? Apa yang membuatnya berbeda? Salah satunya
karena posisinya yang berada di lereng gunung kapur, Gunung Ijo namanya yang
artinya gunung yang hijau, merupakan bagian dari gugusan Gunung Seribu yang
memanjang di bagian selatan Pulau Jawa. Penamaan sebuah candi biasanya
didasarkan pada tiga hal: pertama, berdasarkan legenda yang dikenal masyarakat;
kedua, berdasarkan penyebutan yang ada dalam prasasti; ketiga, berdasarkan
lokasi di mana candi itu berada. Demikian halnya penamaan Candi Ijo, kompleks
percandian bercorak Hindu ini dinamakan sesuai dengan lokasinya yang berada di
lereng bukit padas yang bernama Gunung Ijo yang memiliki ketinggian 427 dpl.
Sedangkan situs Candi Ijo sendiri berada di ketinggian 375 dpl. Pada umumnya
candi dibangun di tempat yang datar, tanahnya subur dan dekat dengan pemukiman.
Namun, Candi Ijo justru dibangun di lereng gunung dan tanahnya tidak begitu
subur serta jauh dari sumber air.
Candi Ijo terletak kurang lebih enam
kilometer arah selatan Candi Prambanan. Secara administratif berada di wilayah
Desa Groyokan, Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman. Untuk
mencapai lokasi candi tersebut tidaklah sulit, bisa ditempuh dengan kendaraan
motor atau mobil karena jalan menuju ke situs Candi Ijo sudah beraspal meskipun di
beberapa ruas jalan sudah mulai rusak aspalnya. Setelah menempuh perjalanan tiga
kilometer ke arah selatan dari Candi Prambanan, maka kita akan menjumpai papan
penunjuk ke arah Candi Ijo, yaitu belok ke kiri menyusuri jalan desa Sambirejo.
Tak sampai satu kilometer, jalanan mulai menanjak menaiki bukit yang semakin
lama semakin menanjak. Pemandangan di kanan kiri jalan didominasi oleh hijaunya
hutan jati milik warga. Terkadang kita berpapasan dengan penduduk yang sedang
mencari pakan ternak. Di sepanjang jalan juga banyak dijumpai perusahaan
pengolah batu untuk dijadikan berbagai macam produk, seperti: untuk lantai atau
dinding rumah, atau dikreasi menjadi berbagai macam hiasan. Bahan baku berupa
batu putih melimpah di daerah itu, sehingga berkembang beberapa perusahaan
pengolah batu. Perjalanan jadi tidak terasa karena kita disuguhi pemandangan
alam nan permai di sisi kiri maupun kanan jalan. Hanya saja harus tetap waspada
karena kondisi jalan yang belum begitu bagus.
Setelah menempuh tiga kilometer
jalanan yang terus menanjak maka sampailah di kompleks situs Candi Ijo yang
berada di sisi kiri jalan, tampak begitu anggun berdiri, seolah menanti untuk
disapa. Rasa lelah selama perjalanan pasti terbayar lunas dengan pemandangan
indah dari kompleks Candi Ijo. Apabila kita memandang ke arah barat, kita bisa
menikmati pemandangan hamparan persawahan yang tampak bagai karpet hijau dan
kuning. Lebih jauh ke arah barat tampak hamparan kota Yogyakarta di kejauhan. Apabila
cuaca cerah, bahkan kita bisa menikmati pemandangan pesawat terbang yang sedang
naik atau mendarat di Bandara Adisutjipto Maguwoharjo. Sungguh merupakan pemandangan
yang sangat berkesan. Sedangkan di arah selatan tampak gugusan Pegunungan
Seribu yang mengular ke arah timur
seolah tanpa ujung.

Kembali ke kompleks Candi Ijo itu
sendiri. Menurut catatan sejarah candi ini diperkirakan dibangun pada abad 9-10
masehi, dan ditemukan pertama kali secara tidak sengaja oleh seorang
administrator pabrik gula Sorogedug yang bernama H.E. Doorepaal pada tahun 1886
masehi. Waktu itu dia sedang mencari lahan untuk penanaman tebu. Tak lama
kemudian C.A. Rosemeier mengunjungi candi tersebut dan menemukan tiga buah arca
batu teras lima, berupa arca Ganesa, arca syiwa dan arca tanpa kepala bertangan
empat. Tahun 1887 masehi DR. J. Groneman melakukan penggalian arkeologis di
sumuran candi induk dan menemukan lembaran emas bertulis, cincin emas, batu
mulia, besi dan biji-bijian.
Keunikan lain dari Candi Ijo yang
membedakannya dari candi di kawasan Prambanan adalah bahwa candi ini merupakan
kompleks percandian yang berteras-teras, membujur dari barat ke timur dengan 11
teras dengan ketinggian yang berbeda-beda. Teras-teras tersebut semakin
meninggi ke belakang yaitu ke arah timur. Bagian belakang (sisi timur)
merupakan pusat percandian. Pola semacam ini berbeda dengan pola-pola
percandian di dataran Prambanan, yang pada umumnya memiliki pola memusat ke
tengah, misalnya Candi Prambanan atau Candi Sewu. Hal ini didasari oleh konsep
penataan ruang yang bersifat kosmis, dengan pusat berupa puncak gunung Meru,
tempat tinggal para dewa. Adapun pola yang semakin meninggi ke belakang seperti
pada Candi Ijo merupakan suatu keunikan tersendiri.
Pada teras-teras kompleks Candi Ijo
terdapat 17 gugusan bangunan candi, namun baru enam candi yang sudah selasai dipugar,
yaitu Candi Utama yang berada di teras ke-11,
tiga Candi Perwara serta dua candi di teras
bawah. Sedangkan sisanya masih masih berupa reruntuhan yang berserakan. Di
dalam salah satu Candi Perwara terdapat arca Nandi dengan pahatan yang sangat halus.
Salah satu dari candi di teras bawah tampaknya merupakan bangunan dengan
struktur kayu, karena di sana ditemukan sisa-sisa umpak batu.
Keunikan lain dari Candi Ijo, yang
merupakan candi pemujaan para dewa, adalah
mengenai pemilihan lokasi dibangunnya candi yaitu berada di lahan yang tidak
subur dan jauh dari mata air atau bukan merupakan tempat tinggal dewa. Menurut
kitab-kitab India kuno, candi seharusnya di bangun di lokasi yang subur dan
dekat dengan mata air, karena lahan atau tanah tersebut merupakan vastu yang merupakan tempat tinggal para
dewa. Oleh karena itu harus subur dan dekat dengan sumber air, namun hal tersebut
tidak berlaku untuk Candi Ijo. Hal ini masih menjadi pertanyaan para ahli yang
belum ditemukan jawabannya, sehingga menyisakan suatu misteri tersendiri.
Walaupun penelitian terus-menerus
dilakukan, namun pesona masa lalu dalam bentuk Candi Ijo ini masih belum
sepenuhnya terungkap. Entah sampai kapan
tabir berbagai misteri Candi Ijo ini bisa terkuak.[]
By Mas Mar
Based on survey Nov 12, 2012. 08.00-08.30 A.M